Ilustrasi Carl Sagan oleh Jody Hewgill yang diperoleh dari smithsonianmag.com Ilustrasi Carl Sagan oleh Jody Hewgill yang diperoleh dari smithsonianmag.com

Carl Sagan: Ketika Pola Pikir Ilmiah Seharusnya Jadi Gaya Hidup

Kosmos dan The Demon Haunted-World: Sains Penerang kegelapan. Dua buku yang ditulis Carl Sagan ini memiliki bahasan berbeda namun saling terkait dengan pola pikir ilmiah sebagai benang merah. 

Kosmos: Sains adalah Jawaban

Kosmos yang dipublikasikan pada tahun 1980 membawa kita mengekplorasi alam semesta dengan cara yang unik dan menarik.  Melalui Kosmos, Carl Sagan mengajak kita untuk memahami alam semesta dan keberadaan kita sendiri.

Secara singkat, Kosmos membawa pesan sains sebagai jawaban atas keingintahuan dan berbagai pertanyaan. Lewat Kosmos, kita diajak untuk menilik apa saja yang harus kita ketahui untuk bisa memahami alam semesta maupun tumbuh kembang kehidupan yang kita kenal di Bumi. Dalam Kosmos, Carl Sagan juga memperlihatkan bahwa pencapaian sains bukan perjalanan singkat melainkan hasil penelitian yang dilakukan sejak berabad-abad lampau. Dan semua itu dimulai dari tataran pemikiran yang kritis. Sebuah perjalanan yang bahkan belum usai sampai saat ini.

Sagan memulai pembahasannya dengan pernyataan Sains adalah jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul. Tapi, sains membutuhkan kedisiplinan dan kesabaran dalam  melakukan percobaan berulang untuk memperoleh jawaban yang dicari. Jawaban yang diperoleh bisa saja tidak sesuai dugaan awal. Tapi, fakta ilmiah tidak bisa diabaikan begitu saja. Apakah fakta itu mendukung atau justru tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan, semua harus diperhitungkan.

Sains juga dinamis. Tidak ada kebenaran mutlak dalam sains. Bukti baru akan selalu membawa kita mendekati kebenaran yang dicari.  Sains membawa manusia pada berbagai terobosan dan pencapaian yang menarik. 

Inilah menariknya Kosmos.  Petualangan mengenal alam semesta yang dikaji membawa pesan kuat bahwa sains adalah jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul dari zaman ke zaman.  

Kosmos memang banyak berbicara tentang upaya mencari dan menemukan kehidupan cerdas di luar Bumi. Pertanyaan yang sudah mengemuka dalam tataran pemikiran sejak berabad-abad lampau.  Lewat Kosmos, Carl Sagan mengajak kita menemukan jawabannya. Tapi, jawaban itu tidak dimulai dengan pencapaian gemilang penjelajahan antariksa, melainkan dari keingintahuan akan pergerakan benda-benda langit dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.  

Ketidaktahuan jelas membuat masyarakat ketakutan dan pada akhirnya pergerakan benda langit dikaitkan dengan bencana, atau kejadian-kejadian besar di dalam masyarakat.  Sains bercampur dengan keyakinan, astronomi masih menyatu dengan astrologi.  Akan tetapi, pengamatan juga dilakukan untuk kebutuhan praktis. Manusia mengamati pergerakan benda langit untuk memahami cara kerja alam agar dapat menentukan waktu bercocok tanam, berburu, pertemuan antar suku, dll.

Dari pengamatan inilah kita bisa mengetahui kalau Bumi ternyata tidak datar. Butuh waktu yang sangat panjang untuk akhirnya kita memahami bahwa Bumi hanya sebuah planet yang mengitari Matahari, dan bukan pusat alam semesta. 

Sains mewajibkan kita untuk selalu kritis dan bertanya.  Untuk bisa mencari kehidupan cerdas di luar Bumi, tentu kita harus terlebih dahulu menjawab, bagaimana kehidupan di Bumi muncul? Pada kondisi bagaimana kehidupan bisa muncul dan berevolusi? Apakah kondisi yang sama bisa diterapkan pada planet lain yang mirip Bumi? Venus? ataukah Mars? 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Sagan membawa kita mengenali kehidupan di Bumi dan bagaimana kehidupan bisa berevolusi sejak Bumi terbentuk. Berbagai percobaan juga dilakukan pada kondisi ekstrim di Bumi untuk mencari tahu berbagai kemungkinan. 

Dasar-dasar untuk memahami alam semesta diletakkan oleh berbagai ilmuwan dari waktu ke waktu dan pada akhirnya membawa kita mengenal benda-benda yang ada di alam semesta dan pola kerjanya. Kita bisa memahami bagaimana alam semesta dimulai dan berevolusi, juga bagaimana bintang-bintang lahir dan berevolusi serta bagaimana Tata Surya terbentuk. 

Tak hanya pemahaman, pencarian itu juga membawa kita pada era penjelajahan antariksa.  Upaya yang sudah membawa “manusia” berkunjung ke seluruh planet di Tata Surya termasuk planet katai Pluto dan MU69 atau Ultima Thule.

Ketika Kosmos ditulis, Voyager 1 dan 2 baru mencapai Saturnus. Sekarang, kedua wahana antariksa tersebut sudah menjelajah ruang antarbintang. Cincin Saturnus yang diharapkan bisa dilihat dari dekat oleh Voyager, justru sudah disambangi Cassini. Bahkan Titan pun sudah dijelajahi oleh penjejak Huygens. Kita sudah mendarat di komet!

Pencarian planet lain di luar Bumi dan upaya mencari kehidupan cerdas pada planet di bintang lain pun sudah membuahkan lebih dari 3000 planet dan kandidat planet yang mirip Bumi. 

Pencapaian yang tampaknya gemilang. Tapi, pencapaian sains ini tidak lepas dari rangkaian pekerjaan para ilmuwan selama berabad-abad. Perjalanan untuk menguak alam semesta juga menghadirkan tantangan yang tidak mudah terutama ketika berhadapan dengan keyakinan dalam tataran beragama.  

Perpustakaan Alexandria menjadi salah satu korban ketika 40.000 – 400.000 gulungan perkamen yang jadi koleksinya akhirnya musnah. Tantangan lain adalah pengasingan dan bahkan dibakar akibat pemikiran dan penemuan yang bertentangan dengan anggapan bahwa Bumi adalah tempat yang istimewa. 

Kosmos memang membuat kita takjub akan alam semesta. Kosmos memperlihatkan pada kita keterkaitan berbagai bidang ilmu yang terangkai untuk memberi pemahaman yang menyeluruh. Pemahaman dan pencapaian yang hanya bisa diperoleh dari pengembangan pola pikir ilmiah yang disiplin melakukan kajian, percobaan atau pengamatan secara berulang dan terus menerus untuk memeroleh jawaban.  Apapun bukti yang diperoleh harus diterima apa adanya. 

The Demon Haunted World: Sains Penerang Kegelapan

Buku The Demon Haunted World: Science as Candle in the Dark. Kredit: Gregory Fisko

Lebih dari satu dekade setelah Kosmos diterbitkan, Buku Sains Penerang Kegelapan karya Carl Sagan diterbitkan. Buku ini masih memiliki benang merah kuat dengan Kosmos. 

Lagi-lagi, Sagan bicara tentang Sains. Masih sama. Sains adalah Jawaban. Akan tetapi yang jadi bahasan utama bukanlah pencapaian sains melainkan pentingnya sains sebagai pola pikir ilmiah dalam memecahkan setiap masalah. 

Singkatnya, The Demon Haunted World: Sains Penerang Kegelapan, mengajak kita melihat tantangan yang dihadapi oleh sains. Sebaran informasi yang salah, kurangnya kemampuan publik dalam memahami dan mengkritisi informasi, serta kebutuhan komunikasi sains untuk menjembatani ilmuwan dengan masyarakat dan pemangku kebijakan menjadi pesan yang dibawa untuk membangun masyarakat yang melek sains atau masyarakat yang menjadikan pola pikir ilmiah sebagai gaya hidup. 

Sagan mengajak kita mengenali pseudosains atau ilmu semu atau pengetahuan, yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Klaim yang diberikan tidak akan dapat dibuktikan lewat metode ilmiah. Berbagai contoh pseudosains dan hoax yang muncul di tengah masyarakat Amerika sampai era 90-an dipaparkan oleh Sagan. Tidak hanya hoax dan penjelasannya, Sagan juga mengesplorasi mengapa isu tersebut bisa muncul dan berkembang. 

Menariknya, mengapa masyarakat lebih mudah percaya pada klaim yang salah?

Jawabannya tak lepas dari ketidakmampuan untuk memahami dan absennya pola pikir ilmiah dalam memecahkan masalah atau menjawab keingintahuan. Sistem keyakinan yang berkembang di tengah masyarakat juga menjadikan seseorang lebih mudah meyakini sesuatu tanpa bertanya dan bukan kritis mempertanyakan informasi yang diterima dan dicari jawabannya. 

Di sinilah perbedaan sains dan keyakinan. Sains menuntut kita selalu kritis dan mempertanyakan segala sesuatu, sedangkan keyakinan dimulai dengan memercayai sesuatu sebagai kebenaran absolut dan tidak dapat dipertanyakan. 

Klaim yang muncul juga bisa memuaskan rasa ingin tahu publik dibanding fakta sains yang seringkali tampak tidak menarik dan tidak memuaskan. Lebih mudah menyajikan cerita yang bisa menarik perhatian publik dibanding memaparkan fakta sains yang membosankan dan prosesnya yang panjang. 

Publik seringkali ingin memeroleh jawaban instan yang memuaskan. Padahal sains seringkali tidak demikian.  

Pertanyaan terkait kehidupan cerdas lain di luar Bumi, sampai saat ini belum memiliki jawaban yang pasti. Pencarian masih dilakukan, dengan batasan kehidupan yang kita kenal di Bumi. Bagaimana jika kehidupan ternyata bisa muncul dan berevolusi dengan cara berbeda dari kehidupan di Bumi. Akankah kita mengenalinya? 

Untuk menjawab pertanyaan ini tentu ada serangkaian hipotesa yang dikemukakan untuk dicari jawabannya baik secara teori maupun lewat pengamatan.  Di sisi lain, ada orang-orang yang mengaku bertemu dengan makhluk cerdas dari planet asing yang mengunjungi Bumi.  Sekilas, tentu menarik untuk meyakini bahwa kita memang dikunjungi makhluk cerdas dari planet nun jauh di bintang lain. Cerita seperti ini memuaskan ego manusia yang ingin memperoleh jawaban instan. 

Tapi tidak dengan mereka yang kritis mempertanyakan dan mau mengikuti pola pikir ilmiah. Jika metode ilmiah diterapkan, maka kita akan menemukan kalau paparan pertemuan dengan makhluk asing hanyalah hoaks, halusinasi, ketidakpahaman tentang alam, ketakutan dan kekhawatiran, juga keinginan untuk memeroleh ketenaran, perhatian dan keuntungan. 

Ide untuk mencampuradukkan sains dan keyakinan memang sudah ada sejak berabad-abad lampau. Para ilmuwan yang meletakkan dasar pengetahuan juga menghadapi hal serupa. Akan tetapi, pada masa itu perkembangan sains baru dimulai. Pemahaman masyarakat akan suatu kejadian masih rendah.  

Hal yang sama masih terjadi di masa ketika Sagan menulis artikel tentang sains sebagai lilin dalam kegelapan. Dan hal serupa masih terjadi saat ini, pada abad ke-21. Isu yang sudah terpecahkan ribuan tahun lalu kembali muncul dan diyakini oleh sebagian orang. 

Pertemuan dengan alien, konsep geosentris, ide Bumi datar, planet nibiru, gerhana sebagai penyebab bencana, masih menjadi topik yang banyak ditanya dan dicari.  

Apakah ada yang salah dengan ini? Bukankah sains diajarkan dalam berbagai tingkat pendidikan? Jawabannya, sains memang diajarkan akan tetapi pola pikir ilmiah tidak tumbuh menjadi bagian dari keseharian yang bisa digunakan untuk menjawab berbagai persoalan.  

Penerapan metode ilmiah dalam menjawab berbagai pertanyaan sangatlah penting. Metode ilmiah menuntut kita untuk memulai dengan sebuah hipotesa yang kemudian diuji dan dicari jawabannya. Apapun fakta dan hasil percobaan harus diterima.  Di sisi lain, ilmu semu ataupun hoaks yang disebarkan, pada umumnya dimulai dengan kesimpulan yang dicari pembenarannya. Seringkali, dalam proses mencari jawaban, fakta yang tidak mendukung kesimpulan awal akan diabaikan.

Jelas sekali sebaran hoaks dan keyakinan pada pseudosains merupakan tantangan tersendiri bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai solusi, pemikiran kritis atau pola pikir ilmiah sudah harus ditumbuhkan sejak dini. Dengan demikian, kita bisa membangun masyarakat yang mampu berpikir ilmiah dan menggunakan metode ilmiah dalam memecahkan berbagai persoalan dan mengambil keputusan dari waktu ke waktu. 

Selain masyarakat umum, para pemangku kebijakan juga perlu untuk memahami sains dan memiliki pola pikir ilmiah dalam menentukan kebijakan sains dan teknologi suatu negara. Tanpa pemahaman yang baik, kita mungkin akan memasuki masa kegelapan modern untuk sains dan teknologi.

Untuk bisa mencapai masyarakat yang menjadikan pola pikir ilmiah sebagai gaya hidup, sains perlu diperkenalkan kepada publik. Bukan hanya pencapaian sains melainkan bagaimana proses kerja sains untuk menghasilkan sebuah pencapaian yang spektakuler. Pola kerja yang mungkin membosankan. 

Untuk itu, dibutuhkan jembatan yang bisa menjadi penyambung lidah ilmuwan ke masyarakat. Carl Sagan adalah contoh komunikator sains yang berhasil memaparkan sains yang rumit dalam bahasa yang mudah dipahami khalayak umum. 

Tanpa memberikan pemahaman pada publik, sains hanya menjadi milik kalangan elit dan terpelajar yang berada di puncak menara gading dan menjadi momok yang ditakuti oleh para pelajar. Pada kenyataannya, sains itu menyenangkan dan bisa ditemui dalam semua aspek kehidupan sehari-hari.  

Sebagai penutup,kutipan dari Jawahral Nehru ini menarik untuk kita renungkan:

“[What is needed] is the scientific approach, the adventurous and yet critical temper of science, the search for truth and new knowledge, the refusal to accept anything without testing and trial, the capacity to change previous conclusions in the face of new evidence, the reliance on observed fact and not on pre-conceived theory, the hard discipline of the mind—all this is necessary, not merely for the application of science but for life itself and the solution of its many problems.” 

Catatan: Tulisan ini dibuat sebagai makalah dalam paparan Science Underground tentang bentang pemikiran Carl Sagan dalam Kosmos dan The Demon Haunted World di Teater Utan Kayu, 1 Februari 2019. 

astronomer. astronomy communicator by day. co-founder of langitselatan. new media practitioners. story teller and podcaster in the making. social media observer. web developer and web administrator by accident.

You may also like

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Galeri
  • Matahari di balik awan. Uji coba teleskop. #vixen #ioptron #fujifilmxa3
  • Siap2 ngamat #gerhanamatahari #cincin 26 Desember 2019. Jangan lihat Matahari secara langsung karena membahayakan mata. Foto oleh Bang Dilan. #kacamatagerhanamatahari #kacamatagerhana #kacamatahari.
  • Tiba2 ditanya: Tante aku mau lihat Matahari.
tante pemalas jawabnya: Nanti dateng pagi ya biar kita liat Matahari. 
Eh dijawab: Sekarang tante... pake teleskop. Akhirnya inilah kami jelang sore liat Matahari yg untungnya msh belon terlalu ke barat dan ketutupan rumah tetangga. Seneng liat ada yg semangat bantu cr lokasi masang teleskop spy mataharinya keliatan dan bahagia liat Matahari. Padahal lg panas terik nih. tag @anisa.n.padmawilaga
  • Piala Thomas thn 1958 di Singapura. Ferry Sonneville dan Tan Yoe Hok. - Cover Majalah Siasat. @janettography.
  • dari gedung sate
  • proud owner of this batik and emoney
  • di suatu siang...
  • Thn kelima terlibat dalam @fab2019bdg. Tahun ini msh di publikasi bersama @deta.ratna.kristanti. Tp saya sering bolos krn kesibukan lain. Meskipun demikian, selalu menyenangkan bisa terlibat di acara yang dihadiri anak2 ini.
  • Kalau sudah besar mau jadi apa? Nah inilah cita2 kami @ajenkhandini @gabrielahaans @adenurisqo @auditanimas @d.ajiprabowo @fahmimnalfrzki. Dari @fab2019bdg #festivalanakbertanya
Daftar untuk cerita terkini

Masukan alamat surel untuk memperoleh perbaruan blog