Hoax dan Social Media Echo Chambers

Mungkin pertanyaan ini sering muncul di benak sebagian kita. Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang dan kemudahan kita terhubung dengan informasi, mengapa begitu banyak hoax yang bertebaran ? 

Saat ini hoax terkait politik memang jadi perhatian semua orang. Bahkan dalam kejadian terakhir ada dosen yang diperiksa karena menyebarkan kabar bohong dan digolongkan hate speech.

Hal yang sama juga terjadi di sains khususnya astronomi. Kita mungkin tidak akan mendengar ada yang ditangkap karena menyebarkan hoax atau misinformasi atau miskonsepsi astronomi. Tapi tingginya sebaran hoax merupakan pekerjaan rumah bagi pendidikan kita. Apa yang terjadi sehingga orang dengan mudah percaya tanpa mampu mengkritisi.

Contoh paling nyata adalah isu Bumi Datar yang merebak sejak pertengahan 2016. Jauh sebelum itu ada banyak hoax lainnya seperti ide bahwa pendaratan di Bulan tak pernah terjadi, kiamat 2012, kiamat akibat rangkaian gerhana tetrad, miskonsepsi geosentris vs heliosentris, Mars sebesar Bulan, alam semesta berbentuk terompet, ataupun gelombang panas saat perihelion.

Ada perbedaan yang cukup mencolok. Isu Bumi datar menghasilkan terbentuknya berbagai komunitas. Isu lainnya seperti Bulan kembar a.k.a Mars sebesar Bulan dll juga makin terkenal dengan cara berbeda meskipun belum ada komunitas khusus yang percaya ada konspirasi Mars sebesar Bulan Purnama dari Bumi atau komunitas yang meyakini bahwa ada konspirasi besar-besaran terkait kiamat akibat datangnya Nibiru.

Semua isu ini memang jadi terkenal karena disebar dengan masif di media sosial. Seseorang dengan mudah berbagi isu yang diterima tanpa melakukan pengecekan ulang. Berita yang diterima tidak dikritisi.

Pertanyaannya mengapa demikian? Tak bisa dipungkiri kebiasaan menghafal bukan memahami dasar-dasar sains masih jadi problematika terbesar di Indonesia.

Tapi ada hal lain yang menarik untuk ditelusuri. Mengapa di era informasi justru hoax dengan mudah disebar? Padahal informasi yang tampaknya tidak terbatas bisa diperoleh dengan mudah hanya dengan satu klik di mesin pencari.

Untuk itu mungkin kita perlu menelusuri kebiasaan masyarakat masa kini. Bagaimana kebiasaan masyarakat saat berselancar di dunia maya? Dari mana mereka memperoleh berita dan di mana berita itu dibaca?

Ketika Dunia Dalam Genggaman

selalu terhubung

Kemunculan media sosial mengubah pola interaksi dalam masyarakat. Tak hanya itu kehadiran telpon pintar jelas semakin mempermudah interaksi tersebut. Jarak dan waktu bukan lagi masalah. Informasi bisa dengan mudah diperoleh di dunia maya. Mesin-mesin pencari yang ada di dunia maya menghubungkan kita dengan berbagai sumber informasi baik yang valid maupun hoax.

Ketergantungan untuk selalu terhubung dengan dunia mengubah pola aktivitas masyarakat. Survei memperlihatkan sejak bangun pagi sampai tengah malam, para pengguna tak lepas dari gawai pintarnya untuk mengecek perbaruan di media sosial atau sekedar bercengkrama dengan teman dan keluarga.

Tak hanya itu diskusi dengan topik yang fokus pada satu masalah atau dalam grup tertentu juga jadi prioritas. Lini masa yang selalu ramai mengalihkan perhatian publik dari dunia nyata. Keinginan untuk diakui dan kebebasan berpendapat memperoleh tempatnya. Apalagi kemudahan fitur berbagi.

Untuk urusan media sosial, Indonesia menempati peringkat ke-4 untuk Facebook dan ke-3 untuk Instagram. Tak hanya itu, kebiasaan mengobrol ini rupanya juga sangat tinggi dan statistik memperlihatkan kalau 89% masyarakat Indonesia itu menggunakan gawainya untuk chatting di whatsapp dan LINE

Perubahan itu juga tampak dalam pola pencarian berita. Lebih dari 80 % publik Indonesia mencari berita lewat intermet, media sosial dan media elektronik. Lini masa media sosial jadi sumber utama untuk mencari berita baru. Baik politik, sosial, budaya, olahraga, maupun sains. Yang dicari adalah berita atau informasi instan yang bisa dibaca cepat dan langsung dibagikan.

Kecenderungan lain yang muncul, kemudahan berbagi menyebabkan publik langsung berbagi berita yang diterima hanya karena judul bombastis dengan isi yang jauh panggang dari api. Tidak ada pengecekan. Berita yang disebar oleh teman dan saudara akan dengan mudah disebarkan kembali. Tingkat keyakinan bahwa yang disebarkan oleh teman dan keluarga pasti benar menjadi alasan kuat untuk tidak melakukan cek dan ricek.

Berita click bait jadi incaran publik dan bagi penyedia berita, judul click bait jadi solusi untuk memviralkan beritanya untuk kebutuhan pendapatan dari iklan. Tentu saja itu termasuk isu astronomi. Meskipun kadang judul berita tersebut tidaklah tepat.

Contohnya: Gerhana Matahari Total terjadi 350 tahun sekali atau Gerhana Bulan Super Darah Biru terjadi setiap 150 tahun.

Meskipun demikian, jelas fenomena ini merupakan keuntungan bagi para astronom komunikator untuk membangun kesadaran sains dan khususnya astronomi. Media sosial jadi alat yang efektif untuk memperkenalkan astronomi dan membangun komunitas. Tak pelak sejak tahun 2010 perkembangan komunitas astronomi di dunia maya bisa dikategorikan meroket bukan saja komunitas yang berbasis dunia nyata tapi juga yang hanya berdiskusi tanpa pernah bertemu.

Salah satu contohnya adalah grup Astronomi Indonesia yang dimulai tahun 2000 dari mailing list dengan jumlah anggota sekitar 1000, sejak hijrah ke grup facebook pada tahun 2009, anggotanya sudah mencapai 33500.

Tapi di sisi lain, hoax masih dengan mudah tersebar. Hoax Mars sebesar Bulan masih terus digaungkan dan disebarkan lewat media sosial selama lebih dari satu dekade. Bahkan untuk kasus Bumi Datar, tercatat lebih dari 50 grup diskusi Bumi Datar di Indonesia dengan anggota terbanyak 29 ribu sejak tahun 2016.

Teori konspirasi sepertinya memperoleh tempat tersendiri. Tapi mengapa publik sepertinya tidak mampu mengkritisi hoax atau menemukan jawabannya di dunia maya?

Gelembung Informasi & Ruang Gaung Media Sosial

selalu terhubung

Seperti apakah linimasamu? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh. Tapi, kebiasaan kita saat beraktivitas di dunia maya menjadi acuan bagi algoritma mesin pencari maupun media sosial seperti Facebook maupun instagram untuk menampilkan apa yang dianggap ingin dilihat oleh kita sebagai pengguna.

Masih bingung? coba perhatikan iklan atau saran tautan yang diberikan saat berselancar di dunia maya. Biasanya iklan atau saran yang diberikan tak jauh berbeda dari kebiasaan sebelumnya dari pengguna dalam mengunjungi situs-situs di dunia maya. Tujuannya agar pengguna mengunjungi situs tersebut dan berbelanja (untuk iklan).

Hal serupa juga terjadi di media sosial. Yang muncul di lini masa biasanya status seseorang yang sering dibaca, diklik, dilike ataupun dishare. Secara otomatis, algoritma si media sosial atau mesin pencari memilah mana yang “sepertinya pasti dibaca” untuk muncul terus menerus dan pada akhirnya menyortir yang tak pernah diajak berinteraksi untuk tidak muncul atau hanya sesekali muncul.

Bahkan berita yang disarankan untuk dibaca pun akan disortir sesuai kebiasaan kita. Jika seorang pengguna sangat menyukai hal-hal terkait konspirasi, atau mungkin UFO, alien, cerita-cerita kiamat, maka tak pelak informasi yang disarankan akan seputar materi tersebut. Atau jika kebiasaan pengguna itu mencari tentang game, atau berita traveling, maka yang juga disarankan akan fokus pada materi tersebut.

Akibatnya, algortima tersebut menciptakan gelembung informasi yang hanya menempatkan bacaan yang kita sukai berdasarkan kebiasaan kita saat berselancar dan menyortir informasi lainnya. Tanpa disadari pilihan kita semakin mengerucut.

Dengan kata lain, algoritma mesin pencari maupun media sosial “membantu” mengkurasi berita yang “ingin dibaca” oleh pengguna. Algoritma sebagai kurator tidak memperhitungkan apakah sebuah situs itu kredibel dan valid atau tidak. Yang disarankan tentunya disesuaikan dengan kebiasaan si pengguna selama berselancar di dunia maya. Akibatnya, bisa saja seorang pengguna berulang-ulang disodori situs-situs hoax yang tentunya tidak valid.

Pada kondisi yang ekstrim, seorang pengguna bisa jadi hanya terekspos pada konten tertentu yang mendukung ideologi atau kesukaannya saja.

Kondisi ini bisa menciptakan ruang gaung di media sosial. Apalagi saat ini media sosial juga menyediakan fasilitas untuk berhenti mengikuti seseorang, mendiamkan seorang pengguna dari linimasa, menyembunyikan status yang tidak disukai, dan tentunya fasilitas grup diskusi dengan topik yang spesifik, atau obrolan yang hanya fokus pada tagar tertentu.

Saat seorang pengguna juga ikut aktif “mengkurasi” pendapat yang diterima dan algoritma dunia maya juga mengkurasi konten yang dibaca, akibatnya seseorang hanya akan tereskpos pada pendapat atau ide yang sesuai dengan pemikirannya. Interaksi pun hanya dilakukan dengan pengguna lain yang memiliki ide dan pendapat yang sama.

Tidak ada konten berbeda yang bisa memberi wawasan dan warna berbeda akan topik tertentu. Ketika seorang pengguna hanya berinteraksi dengan pengguna lain yang memiliki pendapat serupa secara terus menerus, maka pada akhirnya ide dan pendapat tersebut seperti digaungkan kembali dan memperkuat keyakinan individu pengguna akan apa yang diyakini sebagai suatu kebenaran.

Tidak ada lagi proses cek dan ricek karena apa yang diterima sudah dianggap benar. Ini juga yang terjadi dengan kasus hoax dan miskonsepsi pada astronomi.

Berada pada sebuah grup diskusi tentang konsep yang salah misalnya kita sudah ditipu oleh konspirasi global bahwa Bumi itu tidak bulat, dan Matahari itu dekat dengan kita, dan antartika dikelilingi tembok raksasa dan dijaga pasukan bersenjata. Pendapat yang sama secara berulang-ulang didengungkan dan ditampah kemampuan memahami dasar sains yang lemah dan bisa dikatakan amburadul, tambahkan dengan pembenaran dari keyakinan, maka voila…. ide itu dengan mudah diterima sebagai kebenaran.

Ruang gaung yang tercipta ini pada akhirnya memperkokoh dan memperteguh pendapat yang sudah salah dayng dimiliki seseorang sejak awal.

Jadi bagaimana untuk bisa lepas dari gelembung informasi dan memecah ruang gaung tersebut? Caranya tentu saja dengan membuka diri dengan berbagai informasi, dan membaca literatur yang valid bukan situs – situs yang diragukan kebenarannya. Bagaimana memilah? Di sinilah kita sebagai pengguna harus mampu menganalisis informasi yang diterima.

Kemampuan literasi, analisis dan kemauan untuk menerima ide yang berbeda akhirnya menjadi poin penting untuk bisa memecah gelembung informasi maupun ruang gaung yang sudah terlanjur terbentuk.

Bagi sains komunikator, ini adalah tantangan tersendiri untuk bisa menyebarkan informasi yang tepat dalam ruang gaung yang sudah tercipta tersebut. Salah satu yang saya kerjakan adalah lewat tulisan dan audio yang kemudian disebar lewat media sosial.

_____

Tulisan ini merupakan bagian dari paparan saya di Communicating Astronomy with the Public (CAP) Conference 2018. Makalahnya akan diterbitkan di Prosiding CAP2018. 

astronomer. astronomy communicator by day. co-founder of langitselatan. new media practitioners. story teller and podcaster in the making. social media observer. web developer and web administrator by accident.

You may also like

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Galeri
  • pada suatu masa ... 25 thn lalu berkesempatan ikut pemilihan siswa teladan nasional mewakili propinsi Maluku.  @estadirgantari.
  • with friends. ketika ada yg kembali ke itb...
  • nyasar...
  • Instagram Image
  • Bulan mini merah bata. First time motret #gbt. Untung bukan kuliah labas... tag yg ngamat bareng: @ajenkhandini @gabrielahaans @ratona.dw @wixtron. #gerhanabulantotal2018 #gerhanabulan
  • menikmati fajar menyingsing setelah begadang semaleman
  • #gerhanabulantotal2018 dari @kytoshotel semalem
  • Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir & batin. Eid Mubarak!
  • kemarin seruuuuuu banget!! ini dari #fab2018.
Daftar untuk cerita terkini

Masukan alamat surel untuk memperoleh perbaruan blog